Pages

Monday, December 23

Mentari

Saat fajar datang kau mulai mengintip malu. Perlahan dan pasti pesonamu mulai terlihat, bak bidadari yang muncul dari balik satir penghalang.
Nyanyian malaikat kecil bersayap semakin mengajakku untuk menyanjung dirimu. Semakin aku terbuai aku oleh rona merahmu, yang menambah pesona dan keangunanmu.
Aku semakin hilang dan tengelam olehmu hingga kau sentuh aku dengan hangatmu. Dengan hangatmu kau meyakinkan aku untuk tidak lepas darimu. Kini aku terbuai oleh pelukan hangatmu. Saat aku mulai merasakan nyaman kau mulai mencubit aku dengan terikmu. Aku masih terdiam karena pesonamu. Sekali lagi kau cubit aku oleh terikmu tapi aku masih terdiam mengagumi pesonamu. Hingga lagi... Lagi... Lagi... Dan lagi...  Sampai aku merasakan cubitan itu bagai hunusan busur panah yang terus mencercaku. Aku mulai gelisah antara bertahan dan lari. Bertubi-tubi kau hunuskan terikmu hingga menyayatku. Hingga hati ini berteriak untuk lari darimu. Engkau yang dulu elok dan angun kini menjadi sesuatu yang mengerikan yang siap menyayat diriku. Sesekali aku hanya berani mengintipmu dari kejauhan. Dengan perlahan kau mulai berubah. Hingga akhirnya aku hanya terdiam melihatmu lingsir perlahan diufuk barat. Hati ini merasa bersedih saat kau lambaikan rona merahmu yang perlahan mulai sirna. Hingga akhirnya kau kecup aku dengan senjamu, yang seakan berkata tunggu aku esok hari dan tetap cintailah aku. Kini kau telah pergi di iringi lampu temaram yang mulai bercahaya satu per satu.