Tak Rela Pangkas Rambut Gimbal
Rocker kerap diidentikkan dengan gaya sangar dan keras, sekeras lagu-lagu mereka. Tetapi, tidak demikian Ipang. Vokalis BIP tersebut menyatakan bahwa keluarga dan anak-anak adalah segalanya. Bagi dia, image yang ditampilkannya hanya tuntutan pekerjaan.
—
IPANG tampak santai kala ditemui di kediamannya, kawasan Pondok Ranji, Ciputat, Tangerang Selatan, kemarin (29/10). ”Hari ini memang tidak ada jadwal. Jadi, ya saya di rumah saja seharian,” ujar lelaki yang bernama lengkap Irfan Fahri Lazuardi tersebut.
Saat Ipang mengobrol, anak keduanya, Lavi Zahra Lazuardi, berkali-kali mondar-mandir. Tingkah gadis kecil yang baru berumur enam tahun itu cukup merepotkan Ipang dan istrinya, Prima Yunita, atau yang biasa disapa Acir. Kadang, dia merengek-rengek ke ayahnya. Kadang, dia sibuk membersihkan halaman dengan sapu kecil.
Vokalis BIP itu mengungkapkan, anak pertamanya, Leifo Dzaikra Lazuardi, tidak berada di rumah karena menginap di rumah orang tua Ipang. Leifo dan Lavi selalu lengket dengan sang ayah. Lelaki kelahiran Jakarta, 6 Januari 1972, tersebut memang sangat dekat dengan dua anaknya.
Ipang menuturkan, kapan pun punya waktu, dirinya selalu mengusahakan untuk berdekatan dengan dua jagoan ciliknya itu. Sejak pagi, dia bahu-membahu dengan Acir menyiapkan semua keperluan anak-anaknya sebelum mereka berangkat sekolah. Setelah itu, dia mengantarkan mereka ke sekolah.
Siang ketika mereka pulang dari sekolah, Ipang juga kerap menjemput. Kalau memang sedang tidak ada show di luar kota, sebisa-bisanya, dia berangkat ke studio setelah mengantar-jemput anak-anak dari sekolah. Menurut dia, alasan pekerjaan tidak bisa menjadi penghalang untuk selalu berdekatan dengan keluarga.
Salah satu hal yang membuat Ipang bisa terus-menerus berinteraksi secara intens dengan dua buah hatinya adalah komitmennya untuk mengutamakan keluarga. Selain itu, sejak lama, dia tidak mempekerjakan pembantu rumah tangga atau babysitter.
Lelaki yang pernah menjadi vokalis band Plastik itu menjelaskan, tanpa tangan ketiga, dirinya dapat lebih mengenali sifat anak-anaknya. Meski demikian, tidak dapat dimungkiri bahwa merawat anak sendiri membuat pasangan suami istri tersebut harus mengeluarkan tenaga ekstra.
Apalagi, Ipang kerap sibuk dengan aktivitasnya di dunia musik sebagai penyanyi, pencipta lagu, atau music director. Menurut dia, dengan pembagian tugas antara dirinya dan sang istri, semua itu tidak akan terasa berat. ”Saya dan istri dulu juga diasuh langsung oleh orang tua. Kami ingin menerapkan hal tersebut kepada anak-anak kami sekarang,” terangnya.
Ipang tidak takut dicap sebagai rocker yangnggak gahar karena sikapnya yang cenderungfamily man. ”Coba lihat, kurang sangar apa James Hetfield, gitaris Metallica? Rambutnya gondrong. Badan penuh dengan tato. Tetapi, dia sering mengantar anaknya menari balet,” ujarnya. ”Bagi seorang rocker, terlihat sangar itu hanyalahimage. Di rumah ya kami seperti ayah yang lain,” sambungnya.
Tidak salah kalau Ipang kerap dianggap sebagai sosok yang keras. Mungkin, orang hanya menilai dia dari penampilan luarnya. Tubuhnya kurus dengan kulit gelap. Tampilannya makin sangar dengan rambutnya yang bergaya dreadlock alias gimbal yang jadi gaya khasnya sejak masih bergabung dengan Plastik.
Sebenarnya, Ipang justru ingin menyudahi penampilan nyentrik tersebut dengan memangkas rapi rambutnya. Anehnya, anak-anaknya justru melancarkan protes keras. Dia menceritakan, ketika dirinya mengungkapkan keinginan itu, Leifo dan Lavi langsung menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
”Mungkin, mereka sudah biasa sejak bayi melihat penampilan saya begini. Dulu malah dreadlock-nya lebih panjang. Jadi, mereka pikir aneh kalau saya rapi,” ujarnya, lantas terbahak.
Sejak terjun di dunia musik, berbagai penampilan ala rocker pernah dijajal Ipang. Mulai berambut gondrong dan gimbal sampai mengenakan berbagai aksesori yang berkesan dark. Tapi, ada satu hal yang tidak mau ditirunya. Sejak dulu, Ipang tidak pernah suka merajah tubuh. Dia menyatakan tidak akan menghiasi tubuhnya dengan tato.
Salah satu alasannya adalah pertimbangan religius. Selain itu, dia tidak pernah mengidolakan ikon-ikon bertato. Idolanya adalah Mick Jagger, Bob Marley, dan John Lennon. Mereka tidak memiliki satu pun tato di badan. (m dinarsa kurniawan/c12/dos)
Tetap Batasi Informasi
ANAK -anak Ipang selalu dididik dalam suasana penuh kasih sayang dan dibesarkan tanpa tekanan dari mereka. Salah satu contohnya, meski dirinya adalah pemusik kawakan, dia tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk menjadi pemusik atau menyukai musik.
Menurut Ipang, musik adalah media yang fununtuk mengekspresikan diri. Jadi, tidak boleh ada pemaksaan dalam bermusik. ”Sejak kecil anak-anak terbiasa dengan musik. Karena mereka meminta, saya juga belikan alat-alat musik untuk mereka,” terangnya.
Anak pertamanya, Leifo, suka bermain piano dan akhirnya diikutkan les piano atas permintaannya. Demi menjaga agar anaknya tidak tertekan ketika mengikuti kursus musik, dia meminta kepada guru musiknya untuk tidak terlalu mem-pushanaknya. Ipang tidak mau, anaknya terobsesi untuk mengejar grade dalam bermusik. Dia hanya ingin, anaknya belajar musik dengan senang dan mampu mengekspresikan potensinya.
Dalam memilih sekolah, Ipang dan Acir juga tidak ingin, anak-anaknya terbebani dengan kewajiban mengejar nilai akademik sampai akhirnya melupakan esensi pendidikan untuk memanusiakan manusia. Karena itu, dia memilih sekolah yang tidak menerapkan hukuman, tidak memberikan pekerjaan rumah, dan tidak memberlakukan peringkat.
Menurut dia, sangat tidak adil anak-anak di kelas dilabeli dan dituntut untuk menjadi individu yang seragam. Padahal, sebagai individu yang berbeda, mereka punya kegemaran dan kemampuan yang berbeda-beda.
”Tidak semua anak pintar matematika. Lalu, kenapa semua anak harus dipaksa untuk pintar matematika kalau potensi mereka ada di bidang lain,” beber Ipang. ”Saya tidak ingin, anak-anak jadi takut ke sekolah dan akhirnya malah antipati dengan pendidikan,” tambahnya.
Di bidang pendidikan dan hobi, Ipang memang memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada anak-anaknya. Tapi tidak soal akses informasi. Dia bilang, dengan kemajuan zaman yang berdampak pada kian derasnya arus informasi, dirinya sebagai orang tua harus pandai memfilter informasi yang diterima anak-anaknya. Terutama lewat internet, game, dan siaran televisi.
Sebisa-bisanya, saat anak-anaknya online atau memainkan game, Ipang atau Acir mendampingi mereka. Lain lagi soal televisi. Di rumahnya, Ipang sangat jarang memutar siaran dari televisi lokal karena sarat muatan yang tidak mendidik. ”Masa lagu orang yang telanjur hamil tiga bulan tanpa menikah disiarkan di televisi. Kalau anak melihat, kan bisa gawat,” katanya lalu tertawa. (nar/c13/dos)
Harley Kalah oleh Sepeda
SIKAP Ipang sebagai ayah yang lebih mengutamakan keluarga daripada style, salah satunya, tampak dari pemilihan mobil. Sebagai seorang selebriti, sebenarnya, sah-sah saja kalau dia memilih mobil sport atau SUV untuk kendaraan operasionalnya. Apalagi, itu adalah mobil satu-satunya.
Nyatanya, mobil Ipang yang diparkir di carportrumahnya adalah Nissan Serena yang notabene merupakan mobil keluarga. ”Saya memang butuh mobil yang punya daya angkut banyak untuk keperluan keluarga,” jelasnya.
Hobinya di bidang utak-atik kendaraan dicurahkan pada kendaraan roda dua. Saat ini, Ipang punya dua motor Harley-Davidson, seri Dyna dan Sportster. Bersama tunggangannya nan gagah itu, dia melepaskan jiwa petualangannya dengan mengikuti sejumlah tur. Paling jauh, dia berkendara sampai Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat.
Kegemarannya pada motor gede (moge) masih harus mengalah pada hobinya bersepeda. Sebab, garasinya terlalu penuh, berisi 15 sepeda. Akhirnya, hanya tinggal satu moge yang diinapkan di rumah. Satu lagi diungsikan ke studio. ”Sejak masih bersekolah, saya suka sepeda balap. Tambah tua, tidak malah surut, saya malah menggila,” ungkap lulusan Jurusan Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tersebut.
Tidak hanya mengoleksi berbagai jenis sepeda balap, Ipang sangat gemar mengendarainya. Kalau menuruti keinginan, dia ingin nggowessetiap kali pergi dari rumahnya ke studionya di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan. Namun, sang istri sering melarang. Istrinya khawatir jika terjadi sesuatu pada suaminya yang sering pulang larut malam. Terpaksa, hanya sesekali dia mengendarai sepedanya ke studio.
Ipang lebih suka bersepeda ke studio daripada menyetir mobil karena bisa memperpendek waktu tempuh. Dia bilang hanya butuh sekitar 45 menit dari rumahnya di daerah Pondok Ranji, Ciputat, Tangerang Selatan, ke studionya dengan naik sepeda. Kalau dia menumpang mobil, waktu tempuhnya justru jadi lebih lama.
Kini Ipang boleh merasa gembira. Dia tidak sendiri menekuni hobi bersepeda. Sebab, sekarang bersepeda sedang booming. Namun, di sisi lain, dia juga protes. ”Sekarang harga onderdil jadi lebih mahal karena semakin banyak orang yang mencari,” katanya. (nar/c12/dos)
—
Tentang Ipang…
– Merasa paling susah menjawab pertanyaan anak tentang Tuhan
– Kerap mengajak anak ikut tur ketika musim liburan
– Selalu berusaha hadir ketika anak tampil dievent seni dan olahraga
– Hanya ke mal ketika akan belanja bulanan








